Admin dan manajemen Mafiakartukredit.com mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah" bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir & batin. Bagi yang mudik harap berhati-hati dan semoga selamat sampai di tujuan.

Sejarah dan Asal Muasal Uang

Untuk belajar topik kartu kredit, perlu dipelajari juga sejarah uang. 
Untuk memahami produk kartu kredit, harus kita mulai dari sejarah dan asal muasal uang. Kapan uang itu muncul dan ada? Mengapa bisa berkembang sedemikian rupa? Apa hubungan uang dengan produk kartu kredit itu sendiri? Marilah kita telusuri bersama-sama dengan penggambaran yang sederhana dan logis di bawah ini. Selamat membaca!

Bermula dari zaman purba dahulu kala

Tahukah Anda bahwa pada zaman dulu, petani akan selamanya makan padi, nelayan akan selamanya makan ikan, peladang akan selamanya makan buah-buahan, peternak akan selalu mengkonsumsi daging, pemburu akan selalu makan binatang hasil buruan, dst? Mengapa bisa demikian? Tak lain karena zaman dulu manusia belum mengenal apa yang disebut sebagai "transaksi bisnis". Kehidupan waktu itu benar-benar membosankan. Yang dikonsumsi hanya itu-itu saja. Jangankan zaman purba, sekarang zaman modern saja masih ada banyak orang yang merasa bosan serta kesepian sampai ada yang ingin bunuh diri.

Suatu hari, petani, nelayan, peladang, peternak atau pemburu akan berpindah tempat tinggal. Dikenal dengan sebutan "manusia nomaden", selalu berpindah-pindah tempat. Selain faktor sumber daya alam yang sudah  habis (makanan dan minuman) juga bisa karena bencana alam, menghindari binatang buas, perang suku, dsb. Dalam perjalanan berpindah-pindah tempat inilah maka si nelayan akan bertemu  petani, peternak akan bertemu peladang, pemburu akan bertemu nelayan, dst.

Interaksi seperti ini memunculkan pertukaran makanan dan minuman. Rupanya ada sumber makanan lain selain ikan, daging, sayur, buah atau biji-bijian. Akhirnya mereka pun bertukar makanan dan minuman yang kita kenal dengan istilah "barter". Tempat sering bertemu dan bertukar makanan minuman inilah yang akhirnya disebut "pasar" hingga yang kita kenal saat ini. Jadi sekarang kita bisa mengerti sebenarnya konsep awal pasar itu adalah seperti ini.

Biasanya tempat yang dijadikan pasar ini adalah tempat-tempat yang memudahkan mereka bertemu. Misalnya dataran rendah yang tanahnya rata, dekat sungai sehingga mudah dijangkau dengan naik perahu, bebas dari binatang buas dan bencana alam, persimpangan jalan, dsb. Istilahnya strategis untuk kepentingan bersama. Mengakomodir kebutuhan petani, nelayan, peternak, pemburu, peladang, dsb. Jadi bisa dibayangkan jika sebuah negara atau kota yang tiap hari demo, rusuh, bom meledak di mana-mana, transportasi macet, listrik amburadul, air bersih tidak ada, jalanan berlubang-lubang kayak kubangan sapi, bagaimana negara atau kota itu bisa maju? Sampai kiamat negara itu tidak akan maju sekalipun dipimpin seorang dewa atau malaikat. Inilah salah satu alasan mengapa Indonesia tercinta ini tidak pernah maju dibandingkan negara-negara tetangga bahkan Malaysia sekalipun.

Adanya proses pertukaran makanan minuman seperti ini memberikan pelajaran akan ilmu perdagangan internasional. Setiap negara memiliki sumber daya alam dan keunggulan yang berbeda-beda dalam mengelola sumber daya tersebut. Otomatis perlu dilakukan atau digalakkan kerjasama perdagangan internasional untuk meningkatkan daya gunanya. Contoh: Indonesia penuh sumber daya alam tetapi kekurangan teknologi. Otomatis harus berdagang dengan negara yang kekurangan sumber daya alam tetapi mampu secara teknologi. Inilah yang disebut bisnis internasional baik B2B (perusahaan ke perusahaan) atau G2G (pemerintah ke pemerintah).

Dengan adanya transaksi bisnis internasional, masing-masing negara akan mendapatkan keuntungan atau nilai lebih (competitive advantages). Orang-orang yang sering meneriakkan kata-kata boikot produk asing tanpa dasar yang kuat seperti sentimen agama atau isu SARA bisa disebut orang paling konyol sedunia. Bukan begitu caranya main boikot-boikot saja. Alasannya sangatlah sederhana: apakah negara lain tidak bisa melakukan hal yang sama dengan memboikot produk Indonesia? Efek yang ditimbulkan bahkan bisa jauh lebih parah karena banyak produk teknologi dan kesehatan kita sangat bergantung negara-negara lain. Kalau cuma soal makanan minuman sih masih biasa saja. Jika negara lain menghentikan suku cadang pesawat terbang saja, satu per satu warga negara Indonesia akan tewas mengenaskan di udara. Apa mesti berjalan kaki kembali atau berenang melintasi samudera biru?
 
Kekurangan transaksi barter

Transaksi barter.
Makanan ditukar makanan, minuman ditukar minuman. Semua kebutuhan hidup manusia ditukar begitu saja. Standarisasi atau nilai tukar belum ada dan belum bisa ditentukan. Yang berlaku hanyalah berdasarkan kebutuhan, stok barang dan mungkin sedikit hukum permintaan penawaran. Seorang petani akan menukar padinya jika lagi membutuhkan makanan lain, begitu juga seorang peternak akan menukar ayamnya jika membutuhkan makanan lain, dst.. Kalau tidak butuh maka tidak akan ada transaksi. Di samping itu, seorang petani akan menukar begitu saja sekarung padi dengan pemilik sayur, peternak akan menukar kambingnya begitu saja dengan pemilik ikan atau pemilik buah-buahan, dst..

Lama kelamaan transaksi barter ini menemukan kendala yang sangat riskan dan fatal.

Pertama, berkaitan dengan masalah jumlah atau takaran. Kalau sekarang kita menyebutnya dengan istilah satuan nilai. Apakah jika seseorang kaya raya maka dirinya harus menimbun padi, beras, ikan asin, buah-buahan berton-ton di rumah atau digudang yang suatu hari akan lapuk dan membusuk? Tentu konyol bukan?

Alasan kedua, bagaimana menakar sekarung padi atau beras dengan ayam, ikan, buah-buahan dan sebaliknya? Apakah 10 ekor ayam sama dengan 2 kilo ikan atau 15 ikat sayur sama dengan 1 ekor kambing? Ayam dan kambing adalah binatang hidup yang bisa beranak pihak, sementara padi, sayur, buah-buahan atau ikan bisa membusuk dan menyusut.

Alasan ketiga yang jauh lebih rumit adalah kedua belah pihak harus membutuhkan barang yang dimiliki pihak lain dan juga harus membawa barang yang dibutuhkan pihak lain. Hal ini hampir mustahil terjadi. Misalnya seorang petani membutuhkan ikan sementara nelayan tidak membutuhkan padi melainkan buah-buahan. Sementara itu pemilik buah tidak membutuhkan padi atau ikan melainkan daging. Otomatis tidak bisa terjadi barter karena masing-masing tidak membawa barang yang dibutuhkan dan membutuhkan barang lain yang tidak dimiliki partnernya. Jadi meski masing-masing membawa produk yang mereka miliki, sudah ada takaran nilai tukarnya, membutuhkan produk lain, tetap saja tidak bisa bertransaksi sebelum menemukan lawannya.

Lama kelamaan petani yang membutuhkan ikan, berasnya keburu membusuk jika harus menunggu sampai nelayan yang sedang membutuhkan buah-buahan membutuhkan padi. Begitu juga hasil tangkapan ikan si nelayan juga akan membusuk jika dia menunggu sampai ada yang membutuhkan ikan, dst. Pokoknya rumit sekali dan mudah dipahami. Sama seperti saat ini misalnya kita punya produk jualan tetapi tidak mendapatkan pembeli atau konsumen. Lama-lama produk tersebut menjadi barang stok tiada guna dan akhirnya merugi.

Kabar baiknya adalah manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling jenius. Jika masalah transaksi barter tersebut tidak bisa diatasi maka suatu hari akan menimbulkan kekacauan. Kehidupan manusia bisa tidak berkembang ke arah yang lebih maju. Dari sinilah cikal bakal diciptakannya uang sehingga yang kita kenal sekarang yakni uang kertas dan uang logam.


Mata uang logam dan kertas.
Barter bisa diatasi dengan menciptakan satuan nilai tukar dalam bentuk lain yakni mata uang. Uang pada mulanya mempergunakan alat-alat kerajinan tangan hingga perhiasan yang dimiliki orang di zaman dulu. Bisa saja itu terbuat dari batu-batuan, kerajinan kayu, kulit kerang hingga yang terbuat dari logam (besi, perak, timah, kuningan, emas, dsb.). Dengan alat tukar inilah kendala yang dialami oleh transaksi barter mulai teratasi. Tak perlu lagi menunggu sampai barang busuk atau pihak lain membutuhkan barang yang kita miliki.

Sejak mulai diperkenalkan alat tukar, lama kelamaan barter ditiadakan atau sudah tidak menarik lagi. Manusia mulai mengenal uang meski dalam bentuk yang kuno. Seiring perjalanan waktu, alat-alat tukar ini juga menemukan sejumlah kerumitan dan kendalanya tersendiri. Alasannya karena bentuk fisiknya yang berat dan jumlahnya terbatas. Meski secara standarisasi nilai dianggap sudah cukup bagus di mana logam mulia tidak bisa lapuk, rusak atau berkurang beratnya seperti penggunaan alat kerajinan tangan, tetapi tetap saja merepotkan.

Emas, perak, tembaga, timah dan logam-logam lain jumlahnya sangatlah terbatas. Perlu usaha keras untuk menambangnya dari dasar bumi. Ini juga menjadi ganjalan yang serius. Suatu hari jumlahnya juga akan menipis dan habis sebab sumber daya alam tambang tidak bisa diperbaharui. Lagian karena bentuk dan ukurannya yang berat menimbulkan masalah tersendiri. Apakah jika seseorang kaya raya maka harus menimbun batangan emas, perak, tembaga berton-ton di gudang bawah tanah? Apakah kalau jalan-jalan ke luar negeri harus membawa berkarung-karung emas yang beratnya setengah mati? Sejak itu mulai dipikirkan dan diciptakanlah uang kertas seperti yang kita kenal sekarang. Lebih ringan dan bisa diperbaharui pasokannya karena terbuat dari bahan baku pohon. Uang logam pun dipergunkan semakin sedikit dalam pecahan kecil saja. Sampai di sini uang menemukan bentuknya yang sangat luar biasa. Berkembang dan dipergunakan menyeluruh selama ribuan tahun di seluruh penjuru dunia. Seiring itu muncullah bank-bank yang bisa menjadi tempat menyimpan uang atau meminjam uang. It's done!

Kendala Uang Logam & Uang Kertas

Pecahan uang logam dan kertas yang sudah kita pergunakan ribuan tahun ini lama-lama mulai menimbulkan masalah tersendiri seiring perkembangan zaman. Penyebabnya adalah karena mobilitas manusia yang semakin modern dan tinggi. Meski uang kertas sudah cukup ringan, apakah seseorang kalau bepergian ke luar negeri harus membawa berkoper-koper uang? Uang kertas juga bisa rusak, sobek, terbakar atau kecurian. Belum lagi di zaman sekarang di mana hutan semakin menipis untuk ditebang karena faktor pemanasan global. Selain itu apakah seseorang harus terlebih dulu menukarkan mata uang asing negara tujuan sebelum bepergian ke negara tersebut? Hal-hal seperti inilah yang akhirnya memunculkan ide untuk menciptakan uang dalam bentuk lain yang bisa mengakomodir semuanya itu. Dari sinilah cikal bakal munculnya kartu plastik yang akhirnya memunculkan produk "kartu kredit".

Dari serangkaian penjelasan ini Anda tahu bahwa kartu kredit tidak timbul dengan sendirinya. Semuanya bisa ditelusuri hingga ke zaman purba. Kartu kredit bukan produk asal-asalan yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak punya kerjaan atau produk kapitalisme. Kartu kredit sudah melewati masa-masa sulitnya di zaman dulu dan melewati metamorfosis mata uang. Bagaimana dengan masa depan seribu tahun kemudian dari sekarang? Tentu yang akan menjawabnya adalah anak cucu cicit kita nanti. Apakah akan menggunakan chip yang dibenamkan ke dalam telapak tangan atau jidat manusia seperti film 666 tentang pemerintahan antikris/dajjal (one world order)? Apakah nanti akan disematkan di telepon selular atau e-KTP? Jawabannya hanya menunggu waktunya saja dan mungkin kita sudah kembali menjadi abu. Masa depan adalah milik mereka yang belum lahir.

Sponsored links: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab si komentator. Komentar di luar topik apalagi menawarkan bisnis dengan mencantumkan nomor ponsel/telepon pasti dihapus! Berhati-hatilah terhadap segala bentuk penipuan!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons | Konsumen Review