Sejarah dan Asal Muasal Uang

sejarah uang
Untuk belajar topik kartu kredit, perlu dipelajari juga sejarah uang. 
Untuk memahami produk kartu kredit dengan baik dan benar, harus dimulai dari sejarah atau asal muasal uang. Jika tidak demikian, akan mudah kita terdidik secara tidak benar dan diajarkan menjadi pengecut yang akhirnya menyengsarakan diri kita sendiri. Sementara mereka yang mengajarkan kita tidak bertanggung jawab pada masa depan kita sendiri. Buat apa?

Pertanyaan awalnya adalah kapan uang itu muncul dan ada? Mengapa manusia membutuhkan yang namanya uang? Mengapa kartu kredit bisa berkembang sedemikian rupa? Apa hubungan antara uang dengan produk kartu kredit itu sendiri? Marilah kita telusuri bersama-sama dengan penggambaran yang sederhana dan logis di bawah ini. Selamat membaca dan semoga menambah ilmu!

Bermula dari zaman purba

Tahukah Anda bahwa pada zaman dulu, petani akan selamanya makan padi, nelayan akan selamanya makan ikan, peladang akan makan buah-buahan, peternak akan selalu mengkonsumsi daging, pemburu akan makan binatang hasil buruannya? Mengapa bisa demikian? Tak lain karena zaman dulu manusia belum mengenal apa yang disebut "transaksi bisnis". Kehidupan waktu itu benar-benar membosankan dan apa adanya. Yang dikonsumsi juga hanya itu-itu saja. Jangankan zaman purba, zaman modern seperti sekarang saja masih ada banyak orang yang merasa bosan serta kesepian sampai ada yang ingin bunuh diri.

Suatu hari, petani, nelayan, peladang, peternak atau pemburu akan berpindah tempat tinggal. Dikenal dengan nama "manusia nomaden" yang artinya selalu berpindah-pindah tempat tinggal. Selain faktor sumber daya alam yang sudah habis (makanan dan minuman), bisa juga karena bencana alam, menghindari binatang buas, perang suku, dsb. Dalam perjalanan berpindah-pindah tempat inilah maka si nelayan akan bertemu si petani; peternak akan bertemu peladang; pemburu akan bertemu nelayan, dst.

Pertemuan-pertemuan atau interaksi-interaksi seperti ini akhinya memunculkan adanya pertukaran makanan dan minuman. Ternyata di muka bumi ini ada sumber makanan lain selain ikan, daging, sayur, buah-buahan atau biji-bijian. Akhirnya mereka pun bertukar makanan dan minuman yang kita kenal dengan istilah "barter". Tempat sering bertemu dan bertukar makanan minuman inilah yang akhirnya disebut "pasar" hingga yang kita kenal sekarang. Jadi bisa kita tarik kesimpulan awal bahwa konsep pasar adalah seperti itu.

Biasanya tempat yang dijadikan pasar adalah tempat-tempat yang memudahkan mereka bertemu. Misalnya dataran rendah yang tanahnya rata, dekat sungai sehingga mudah dijangkau dengan perahu - harap diingat bahwa dulu belum ada alat transportasi yang paling canggih selain perahu -, bebas dari binatang buas dan bencana alam, persimpangan jalan, dsb. Istilahnya strategis untuk kepentingan bersama. Mengakomodir kebutuhan petani, nelayan, peternak, pemburu, peladang, dsb. Bisa dibayangkan jika sebuah negara atau kota yang tiap hari demo, rusuh, bom meledak di mana-mana, transportasi macet, listrik amburadul, air bersih tidak ada, jalanan berlubang-lubang kayak kubangan sapi, bagaimana negara atau kota itu bisa maju? Bagaimana bisa dijadikan tempat untuk mempertemukan orang dengan berbagai keperluan? Sampai kiamat negara itu tidak akan maju sekalipun dipimpin seorang dewa atau malaikat. Inilah salah satu alasan mengapa Indonesia tercinta ini tidak pernah maju dibandingkan negara-negara tetangga bahkan Singapura dan Malaysia sekalipun.

Adanya proses barter seperti ini memberikan pelajaran akan ilmu perdagangan internasional. Setiap negara memiliki sumber daya alam dan keunggulan yang berbeda-beda dalam mengelola sumber daya tersebut. Otomatis perlu dilakukan atau digalakkan kerjasama perdagangan internasional untuk meningkatkan daya gunanya. Contoh: Indonesia penuh sumber daya alam tetapi kekurangan teknologi. Otomatis harus berdagang dengan negara yang kekurangan sumber daya alam tetapi mampu secara teknologi. Inilah yang disebut bisnis internasional baik B2B (perusahaan ke perusahaan) atau G2G (pemerintah ke pemerintah).

Dengan adanya transaksi bisnis internasional, masing-masing negara akan mendapatkan keuntungan atau nilai lebih (competitive advantages). Orang-orang yang sering meneriakkan kata-kata boikot tanpa dasar yang kuat dan hanya karena sentimen agama atau SARA bisa disebut orang paling konyol sedunia. Secara sekilas terlihat memang nasionalis tetapi sesungguhnya kebalikannya. Bukan begitu caranya main boikot-boikot saja. Alasannya sangatlah sederhana: apakah negara lain tidak bisa melakukan hal yang sama dengan memboikot produk Indonesia? Efek yang ditimbulkan bahkan bisa jauh lebih parah karena banyak produk teknologi dan kesehatan kita sangat bergantung negara-negara lain. Kalau cuma soal makanan minuman sih masih biasa-biasa saja sebab sumber makanan bisa disubstitusikan. Bagaimana dengan produk obat-obatan atau produk kesehatan? Jangankan produk kesehatan, jika negara lain menghentikan suku cadang pesawat terbang saja, satu per satu warga negara Indonesia akan tewas mengenaskan di udara. Apa kita mesti berjalan kaki atau berenang melintasi samudera biru?
 
Kekurangan transaksi barter

transaksi barter
Transaksi barter.
Makanan ditukar makanan, minuman ditukar minuman. Semua kebutuhan hidup manusia ditukar begitu saja. Standarisasi atau nilai tukar belum ada dan belum bisa ditentukan. Yang berlaku hanyalah berdasarkan kebutuhan, stok barang dan mungkin sedikit hukum permintaan penawaran. Seorang petani akan menukar padinya jika lagi membutuhkan makanan lain, begitu juga seorang peternak akan menukar ayamnya jika membutuhkan makanan lain, dst.. Kalau tidak butuh maka tidak akan pernah terjadi transaksi. Di samping itu, seorang petani akan menukar begitu saja sekarung padi, peternak akan menukar kambingnya begitu saja dengan pemilik ikan atau pemilik buah-buahan, dst..

Lama kelamaan transaksi barter menemukan kendala yang sangat riskan dan fatal.

Alasan pertama, berkaitan dengan masalah jumlah atau takaran. Kalau sekarang kita menyebutnya dengan istilah satuan nilai. Apakah jika seseorang kaya raya maka dirinya harus menimbun padi, beras, ikan asin, buah-buahan berton-ton di rumah atau di gudang yang suatu hari akan lapuk dan membusuk? Tentu konyol bukan?

Alasan kedua, bagaimana menakar sekarung beras dengan ayam, ikan, buah-buahan dan sebaliknya? Apakah 10 ekor ayam sama dengan 2 kilo ikan atau 15 ikat sayur sama dengan 1 ekor kambing? Ayam dan kambing adalah binatang hidup yang bisa beranak pihak, sementara padi, sayur, buah-buahan atau ikan bisa membusuk dan menyusut.

Alasan ketiga yang jauh lebih rumit adalah kedua belah pihak harus membutuhkan barang yang dimiliki pihak lain dan juga harus membawa barang yang dibutuhkan pihak lain. Hal ini hampir mustahil terjadi. Misalnya seorang petani membutuhkan ikan sementara nelayan tidak membutuhkan padi melainkan buah-buahan. Sementara itu pemilik buah tidak membutuhkan padi atau ikan melainkan daging. Otomatis tidak bisa terjadi barter karena masing-masing tidak membawa barang yang dibutuhkan dan membutuhkan barang lain yang tidak dimiliki partnernya. Bisa dibayangkan kondisi seperti ini? Mmeski masing-masing membawa produk yang mereka miliki, sudah ada takaran nilai tukarnya, membutuhkan produk lain, tetap saja tidak bisa bertransaksi sebelum menemukan lawannya.

Lama kelamaan petani yang membutuhkan ikan, berasnya keburu membusuk jika harus menunggu sampai nelayan yang sedang ingin makan buah-buahan membutuhkan padi. Begitu juga hasil tangkapan nelayan akan membusuk jika dia menunggu sampai ada yang membutuhkan ikan, dst. Pokoknya rumit sekali. Sama seperti sekarang misalnya kita punya produk jualan tetapi tidak mendapatkan pembeli atau konsumen. Lama-lama produk tersebut menjadi barang stok tiada guna dan akhirnya merugi.

Kabar baiknya adalah manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling jenius. Jika masalah transaksi barter tidak bisa diatasi maka suatu hari akan menimbulkan kekacauan. Kehidupan manusia tidak berkembang ke arah yang lebih maju. Dari sinilah cikal bakal diciptakannya uang yang kita kenal sekarang yakni uang kertas dan uang logam.


asal mata uang
Mata uang logam dan kertas.
Barter bisa diatasi dengan menciptakan satuan nilai tukar dalam bentuk lain yakni mata uang. Uang pada mulanya mempergunakan alat-alat kerajinan tangan hingga perhiasan yang dimiliki orang di zaman dulu. Bisa saja itu terbuat dari batu-batuan, kerajinan kayu, kulit kerang hingga yang terbuat dari logam (besi, perak, timah, kuningan, emas, dsb.). Dengan alat tukar inilah kendala yang dialami oleh transaksi barter mulai teratasi. Tak perlu lagi menunggu sampai barang hampir membusuk atau kedua belah pihak saling membutuhkan barang yang dimiliki.

Sejak mulai diperkenalkan alat tukar, lama kelamaan sistem barter ditinggalkan manusia atau sudah tidak menarik lagi. Manusia mulai mengenal uang meski dalam bentuknya yang paling kuno. Seiring perjalanan waktu, alat-alat tukar ini juga menemukan sejumlah kerumitan dan kendalanya tersendiri. Alasannya karena bentuk fisiknya yang berat dan jumlahnya terbatas. Meski secara standarisasi nilai dianggap sudah cukup bagus di mana logam mulia tidak bisa lapuk, rusak atau berkurang beratnya seperti penggunaan alat kerajinan tangan, tetapi tetap saja merepotkan.

Emas, perak, tembaga, timah dan logam-logam lain jumlahnya sangatlah terbatas. Perlu usaha keras untuk menambangnya dari dasar bumi. Ini juga menjadi ganjalan yang sangat serius. Suatu hari jumlahnya juga akan menipis dan habis sebab sumber daya alam tambang tidak bisa diperbaharui. Selain itu karena bentuk dan ukurannya yang berat menimbulkan masalah tersendiri. Apakah jika seseorang kaya raya maka harus menimbun batangan emas, perak, tembaga berton-ton di gudang bawah tanah? Apakah kalau jalan-jalan ke luar negeri harus membawa berkarung-karung emas yang beratnya setengah mati? Sejak itu mulai dipikirkan dan diciptakanlah uang kertas seperti yang kita kenal sekarang. Lebih ringan dan bisa diperbaharui pasokannya karena terbuat dari bahan baku kayu. Pohon bisa diperbaharui. Uang logam pun dipergunakan semakin sedikit dan itu pun dalam pecahan kecil saja. Sampai di sini uang menemukan bentuknya yang sangat luar biasa. Berkembang cepat dan dipergunakan menyeluruh selama ribuan tahun di seluruh penjuru dunia. Seiring itu muncullah bank-bank yang bisa menjadi tempat menyimpan uang atau meminjam uang. It's done!

Kendala Uang Logam & Uang Kertas

Pecahan uang logam dan uang kertas yang sudah kita pergunakan ribuan tahun ini lama-lama mulai menimbulkan masalah tersendiri seiring perkembangan zaman. Penyebabnya adalah karena mobilitas manusia yang semakin kompleks dan tinggi. Meski uang kertas sudah cukup ringan, apakah seseorang kalau bepergian ke luar negeri harus membawa berkoper-koper uang? Uang kertas juga bisa rusak, sobek, terbakar atau kecurian. Belum lagi di zaman sekarang di mana hutan semakin menipis untuk ditebang karena faktor pemanasan global. Selain itu apakah seseorang harus selalu menukarkan mata uang asing negara tujuan sebelum bepergian ke negara tersebut? Hal-hal seperti inilah yang akhirnya memunculkan ide untuk menciptakan uang dalam bentuk lain yang bisa mengakomodir semuanya itu. Sebenarnya inilah cikal bakal munculnya kartu plastik yang akhirnya memunculkan produk "kartu kredit" untuk dipergunakan di seluruh dunia.

Dari serangkaian penjelasan ini Anda tahu bahwa kartu kredit tidak timbul dengan sendirinya. Semuanya bisa ditelusuri hingga ke zaman purba. Kartu kredit bukan produk asal-asalan yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak punya kerjaan atau produk kapitalisme. Kartu kredit sudah melewati masa-masa sulitnya di zaman dulu dan merupakan metamorfosis mata uang. Bagaimana dengan masa depan seribu tahun kemudian? Tentu yang akan menjawabnya adalah anak cucu cicit kita nanti. Apakah akan menggunakan chip yang dibenamkan ke dalam telapak tangan atau jidat manusia seperti film 666 tentang pemerintahan antikris/dajjal (one world order)? Apakah nanti akan disematkan di telepon selular atau e-KTP? Jawabannya hanya menunggu waktunya saja dan mungkin kita sudah kembali menjadi debu. Masa depan adalah milik mereka yang belum lahir.

Sponsored links: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab si komentator. Komentar di luar topik apalagi menawarkan bisnis dengan mencantumkan nomor ponsel/telepon pasti dihapus! Berhati-hatilah terhadap segala bentuk penipuan!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons | Konsumen Review