Admin dan manajemen Mafiakartukredit.com mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah" bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir & batin. Bagi yang mudik harap berhati-hati dan semoga selamat sampai di tujuan.

Peranan Bank Dalam Kehidupan Manusia

Gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta. Di sinilah sumber ide, kebijakan dan penyelesaian semua masalah keuangan dan perbankan Indonesia. Jika pengurusnya tidak beres dan bukan orang yang kompeten, bermacam kasus akan terjadi. 
Uang dan kartu kredit tidak terlepas dari bank. Setelah kita memahami tentang sejarah uang, berikutnya yang harus dipahami adalah bank. Bank adalah lembaga atau institusi keuangan yang mengeluarkan uang dan menerbitkan kartu kredit. Bank bukan hanya sebagai tempat menyimpan tabungan tetapi juga berperan dalam sistem tatanan ekonomi nasional bahkan internasional.

Jika tidak ada bank, di manakah kita harus menyimpan uang atau kekayaan kita? Apakah harus menyimpannya di celengan babi, ayam, babu atau di bawah bantal? Tentu tidak aman karena pencuri bisa mengambilnya kapan saja. Menyusup diam-diam ke dalam kamar, menggasak semua harta benda kita. Lapor polisi, polisi pun bingung bagaimana harus menangkap pencuri ini. Jadi menabung di bank jauh lebih aman kecuali digondol sendiri oleh om Robert Tantular, om Dicky Iskandar Dinata, om Hendra Rahardja, om Andrian Waworuntu, dst.

Kedudukan bank dalam perekonomian sebuah negara sangatlah vital. Institusi perbankanlah yang menciptakan semua jenis mata uang yang ada sehingga kita semua bisa bertransaksi, berdagang hingga menjadi orang kaya. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kehidupan ini jika tidak ada bank? Apa kekayaan kita harus dalam bentuk sembako, rempah-rempah, logam mulia berton-ton di gudang yang bakal lapuk seperti zaman purba atau dicuri orang? Bagaimana kita harus menyimpan kelebihan uang atau dari mana kita harus meminjam dana untuk keperluan investasi, bisnis, dsb? Bagaimana kita harus membayar rekan bisnis di luar negeri atau mengirimi uang untuk anak-anak kita  yang sedang kuliah di luar negeri? Semuanya dimungkinkan karena adanya bank.

Bank bukan saja sebagai tempat menyimpan kekayaan seperti tabungan, deposito, giro, cek, tetapi juga saja memungkinkan kita untuk menyimpan kekayaan dalam bentuk tabungan, deposito, giro, tetapi bank juga bisa berperan sebagai lembaga mediator, tempat menyimpan surat berharga, dokumen-dokumen penting yang kadang kita sebut sebagai safe deposit box. Bayangkan seperti zaman purba semuanya itu disimpan di lemari, celengan atau di bawah kasur. Tentu jauh lebih aman dan nyaman ditaruh di bank. Belum lagi dengan adanya pemberian bunga simpanan atau bunga deposito, membuat semua kekayaan kita akan berkembang secara perlahan-lahan namun pasti. Inilah yang sering disebut oleh kalangan pelaku bisnis bahwa bank adalah salah satu sarana investasi terbaik yakni produk perbankan.

Peranan Bank Dalam Sistem Ekonomi Negara

Anda harus tahu dan mengerti bahwa bank didirikan dengan tujuan yang sangat mulia. Jika ada persoalan-persoalan perbankan seperti kasus Bank Century, BLBI, dsb.. itu adalah ekses yang terjadi. Bukan banknya sebagai sebuah lembaga yang harus disalahkan tetapi oknum-oknum yang terkait dengan regulasi dan operasional bank itu sendiri. Meski kasus perbankan di Indonesia terus terjadi bak hujan meteor, bukan berarti bank sudah tidak bisa dipercayai lagi. Di negara lain kok tidak pernah ada kasus demikian dan perbankan mereka aman-aman saja? Ini masalah sumber daya manusianya dan terkait "orang Indonesia" itu sendiri. Entah orang Indonesia itu berkedudukan sebagai pihak regulator (pejabat), operator (bankir) atau eksekutor (penjahat perbankan). Makanya ada anekdot: "Apapun yang baik yang diberikan kepada orang Indonesia pada akhirnya semuanya akan rusak termasuk sebuah agama yang baik." Benar atau tidak, Anda yang menentukannya sendiri setelah melihat fakta yang terus terjadi di negeri ini.

Bank didirikan selain untuk menciptakan uang, juga berfungsi untuk mengontrol sistem moneter, fiskal dan devisa sebuah negara. Bank menjadi salah satu urat nadi atau pilar perekonomian negara. Jika sistem perbankan sebuah negara rapuh dan orang-orang yang duduk di dalamnya terus melakukan upaya-upaya KKN seperti yang terjadi di Indonesia, percayalah negara tersebut akan rentan sekali perekonomiannya. Dalam cakupan yang lebih luas, bank juga berfungsi sebagai lembaga pengontrol perekonomian dunia. Jadi semua perekonomian negara saling terkoneksi oleh lembaga-lembaga perbankan seperti ini. 

Sebagai masyarakat kita tahunya enak-enak berbisnis, berdagang, tarik uang di ATM, memakai kartu kredit gesek sana gesek sini, dsb.. Jika terjadi inflasi atau situasi ekonomi memburuk, kita hanya bisa mencaci maki pemerintah terutama Menko Ekuin (Menteri Koordinator Ekonomi dan Keuangan) serta Menperindag (Menteri Perindustrian dan Perdagangan). Padahal kita tidak pernah tahu bahwa pemerintah, khususnya orang BI (Bank Indonesia) sudah memeras otak tujuh keliling untuk mencegah dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi termasuk bertahan menghadapi berbagai upaya dan permainan spekulan sialan yang begitu cerdik. Belum lagi harus menghadapi semua kebijakan bank sentral negara lain terutama The Fed (Federal Reserve) - bank sentral Amerika Serikat, dsb. Jadi sebagai masyarakat janganlah kita meremehkan tugas pemerintah (BI). Belum tentu jika kita yang disuruh akan jauh lebih mampu. Karena itu amatlah krusial dan wajib jika Bank Indonesia (BI) harus diduduki oleh orang-orang pintar, jenius dan kompeten. Bukan saja sosok "bersih" tetapi orang tersebut harus benar-benar jenius. Bersih saja tidaklah cukup karena negara akan terancam oleh ulah-ulah spekulan dan permainan bank sentral negara lain. BI itu bukan lembaga dakwah apalagi agama. Celaka 13-nya mungkin susah menemukan orang jenius yang "bersih". Banyak yang mau tetapi tidak mampu, sebaliknya ada yang mampu tetapi tidak mau atau tidak "bersih".

Uniknya dan inilah yang menjadi sumber malapetaka dunia, ternyata bank sentral Amerika (The Fed) itu dimiliki oleh pihak swasta. Mungkin inilah satu-satunya bank sentral di seluruh dunia yang dipegang oleh swasta. Bisa Anda bayangkan? Jadi dengan kata lain BI itu ibarat milik swasta kayak BCA, BII atau Citibank. Milik pemerintah saja amburadul dan banyak permainan dan kepentingan di sana, apalagi milik swasta? Kurang lebih seperti itulah logika berpikirnya. Karena itu kekuatan The Fed begitu luar biasa dan ditakuti bahkan mengontrol pemerintah negara Amerika itu sendiri. Jadi apa saja yang dilakukan oleh The Fed akan mempengaruhi perekonomian semua negara di dunia. Luar biasa bukan? Coba saja kita taruh Om Robert Tantular sebagai salah satu direksi The Fed, saya yakin dunia sebentar lagi kiamat. Cckk...cckk.

Makanya kami kadang tertawa kecil jika mengikuti seminar forex, option, index atau lainnya yang kata mereka punya ilmu paten menang investasi hanya berdasarkan tren, software apalagi grafik candle stick. Semua yang diceritakan oleh marketing perusahaan investasi di atas hanya untuk mengejar omset dan biaya hidup buat mereka. Mereka tidak perlu tahu bahkan tidak peduli Anda sebagai investor menang atau kalah sebab yang mereka butuhkan hanyalah adanya "transaksi". Setiap terjadi transaksi otomatis akan menghasilkan uang makan buat mereka. Jika sekali transaksi Anda dikenakan biaya Rp 1.000.000, secara akal sehat kami sebagai broker pasti menganjurkan Anda setiap hari bertransaksi. Bila perlu sehari 3x kayak minum obat batuk. Gunakan saja logika Anda dan jangan mau terus dipermainkan dan ditipu orang pintar. 

Berinvestasi di sarana-sarana seperti itu (forex, index, valas, option, dsb.) sebenarnya lebih kepada Anda berpihak pada bank sentral negara mana. Jika Anda membeli dan menyimpan dollar Amerika, ini berarti Anda lebih percaya bahwa orang-orang Amerika (The Fed) jauh lebih pintar dari orang-orang Indonesia (BI). Otomatis Anda percaya bahwa dollar harganya akan naik beberapa waktu ke depan. Begitu juga jika Anda berinvestasi dengan membeli atau memborong dollar Singapura, dollar Australia, yen Jepang, yuan China, euro, dsb. Anda percaya pemerintah negara-negara tersebut jauh lebih hebat dari pemerintah negara Indonesia atau negara lain di mana mata uangnya Anda pertaruhkan. Karena itu kita sering melihat bahwa mata uang antara satu negara dan negara lain dipertaruhkan. Tidak selalu harus antara rupiah (IDR) melawan dollar Amerika (USD), tetapi bisa saja dollar Singapore (SGD) melawan dollar Amerika (USD), dsb.

Setiap negara di muka bumi ini pasti akan lebih memilih untuk menjaga dan mempertahankan perekonomian negaranya. Karena itu mereka akan berusaha sekuat tenaga mempertahankan mata uang mereka dengan berbagai kebijakan. Bahkan bila perlu dengan kebijakan ekstrim jika keadaan mendesak. Dengan asumsi sederhana seperti ini, seharusnya Anda paham bahwa permainan-permainan investasi seperti yang disebutkan di atas harus lebih mengacu pada kekuatan, kepintaran dan kredibilitas orang-orang yang duduk di dalam bank sentral tiap-tiap negara. Apa yang mereka inginkan, apa yang akan mereka lakukan, kepentingan apa yang sedang bergolak di negara tersebut, dsb. Bukan semata-mata berdasarkan tren, data, grafik, candle stick dan software. Emangnya main valas adalah bermain togel yang berisi bola-bola angka-angka begitu saja? Mata uang sebuah negara menguat atau melemah semuanya itu sangat ditentukan oleh bank sentral negara tersebut dalam menjalankan perannya mengatur devisa, fiskal dan moneter. Bukan sekadar sebuah program komputer.

Menciptakan dan Meniadakan Daya Beli Masyarakat

Ini sangat penting! Mari kita pahami sejenak peranan bank berkaitan dengan penciptaan atau peniadaan daya beli masyarakat. Ini berlaku di semua negara. Tentunya pembelajaran ini dengan sejumlah pengecualian. Untuk lebih jelas Anda bisa bertanya kepada profesor-profesor atau doktor-doktor di sejumlah universitas atau pejabat terkait. Indonesia sudah memiliki banyak doktor dan profesornya. Ilmu dan pengalaman kami tidaklah sehebat dan seluas mereka. Anda pasti tahu bahwa bank mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan. Dana yang terkumpul ini harus disalurkan kembali kepada mereka-mereka (masyarakat) yang membutuhkan, yang biasanya disebut penyaluran atau pemberian kredit. Lalu bagaimana sistem kredit perbankan ini bisa meningkatkan daya beli masyarakat (perekonomian negara)?

Katakanlah seorang pedagang mendatangi sebuah bank, mendaftarkan diri menjadi nasabah dan langsung mengajukan pinjaman kredit. Kita anggap orang bank semuanya baik-baik, profesional dan santun-santun. Si calon nasabah (debitur) akan dinilai sesuai kriteria bank yang sudah ada standar operasionalnya (SOP). Asal saja jangan sampai minjam uang ke bank gadai ijazah S1 seperti yang dikeluarkan seorang pejabat akhir-akhir ini. Sebab bukan tidak mungkin nanti akan gadai surat nikah, surat cerai, surat kematian, dsb. Kami tidak habis pikir otak macam apa yang mencetuskan ide konyol seperti ini. Setelah dinyatakan layak, bank akan mengkreditkan sejumlah uang ke rekening si pedagang, lalu pedagang tersebut bisa menggunakan dana tersebut untuk keperluannya baik itu menarik tunai, menulis cek, membayar giro, dsb. Dari sinilah sebenarnya asal muasal istilah tabungan derivatif dengan segala permainan turunannya. Si pemilik tabungan tidak pernah memasukkan uang dalam rekening tabungan, tetapi ada banyak uang di dalamnya dan bisa mereka pergunakan seenak perutnya. Kita anggap pedagang tersebut adalah pengusaha jujur dari desa yang belum pernah terkontaminasi praktek suap, pergaulan hidup jetset ibukota, berteman dengan makelar kasus atau mark up nilai proyek. Sekarang kita lihat bagaimana selanjutnya bank mempengaruhi daya beli masyarakat dari proses di atas yang dilakukan oleh pedagang tersebut.

Katakanlah di negara kita ini ada 3 bank saja yakni: A, B, C. Misalnya bank A memperoleh total simpanan masyarakat sebesar Rp 1 triliun. Oleh aturan pemerintah (BI) mengharuskan sejumlah persentase dana tersebut disimpan di bank sentral sebagai dana cadangan untuk berbagai keperluan misalnya masalah likuiditas. Katakanlah dana cadangannya minimal 30%, maka sisa dana yang ada di bank A adalah Rp 700 miliar. Karena bank adalah lembaga profit yang harus mencetak laba untuk membayar bunga kepada deposannya, membayar biaya operasional, otomatis mereka perlu pemasukan. Total Rp 700 miliar katakanlah disalurkan lagi kepada masyarakat dalam bentuk kredit yang pada akhirnya dibelanjakan lagi kepada pelaku bisnis. Kita andaikan si pedagang ini menerima Rp 700 miliar.

Tentunya Rp 700 miliar yang didapatkan oleh para pelaku bisnis (pedagang) akan disimpan kembali ke bank berikutnya. Pedagang-pedagang akan saling bertransaksi dan keuntungan akan ditaruh kembali ke bank. Katakanlah kali ini adalah bank B menerima Rp 700 miliar tersebut. Setelah mencadangkan 30% maka bank B akan menyalurkan kembali ke masyarakat seperti yang dilakukan oleh bank A yakni kali ini Rp 490 miliar (70% x Rp 700 miliar). Dengan begitu bank C akan menerima Rp 490 miliar. Begitu seterusnya ke bank C, D, E, dst... Untuk lebih jelasnya coba amati ilustrasi yang kami buat di bawah ini:

Bank
Tabungan
Cadangan
Sisa yang disalurkan
Jumlah total
A
1.000 M
300 M
700 M
1.000 M
B
   700 M
210 M
490 M
   700 M
C
   490 M
147 M
343 M
   490 M
Dst…
….
….
….
….

Dari data ilustrasi di atas, Anda bisa melihat bahwa total dana yang beredar di masyarakat sampai bank C berjumlah Rp 2,190 triliun lebih (penjumlahan total keseluruhan). Jauh lebih besar jika hanya ada satu bank saja (bank A), bukan? Jika hanya ada bank A maka total dana yang berputar hanya Rp 1 triliun. Makin banyak bank maka makin hidup sebuah perekonomian negara. Pertanyaannya adalah: apa yang akan terjadi jika jumlah bank yang ada dalam sebuah negara sedemikian banyak dan beragam? Ya Betul! Uang derivatif yang diciptakan akan sedemikian besar dan menakutkan. Dana-dana inilah yang menghidupkan perekonomian sebuah negara. Tak ada bedanya dengan menggunakan kartu kredit. Pada saat kita menggunakan kartu kredit, sebenarnya kita juga menggunakan uang derivatif seperti ini. Kita menggunakan uang bank yang dikreditkan kepada kita. Lalu kita berbelanja sehingga perusahaan untung dan terus berproduksi, membayar gaji pegawai, dan akan terus berputar sistem ekonomi seperti ini. Atas dasar logika seperti inilah maka Anda tahu mengapa keberadaan bank-bank di sebuah negara harus cukup beragam baik itu bank pemerintah, bank swasta, bank asing, bank devisa, bank non devisa, bank perkreditan rakyat, bank bodong, bank bangkrut, dsb.

Penjelasan di atas juga membuka pikiran Anda mengapa ada banyak sekali konglomerat, anak pejabat, cucu birokrat yang berlomba-lomba mendirikan bank atau berusaha menduduki posisi kunci direksi bank. Bahkan beberapa di antaranya berusaha pacaran dan menikah dengan anak atau cucu bankir. Mereka sudah tahu apa yang kami sebutkan di atas. Katakanlah pada akhirnya seperti yang sudah kita saksikan bersama-sama di mana bank-bank yang mereka kelola atau miliki tersebut bangkrut seperti Bapindo, Bank Duta, BLBI I, BLBI II, Century, dsb. toh mereka semua sudah sangat dikayakan oleh proses tabungan derivatif seperti itu. Uang mereka tidak habis dimakan 20 turunan (bukan 7 turunan lagi). Masuk penjara 10 tahun lalu keluar dengan harta ratusan miliar, kami rasa semua juga mau. Itupun bukan penjara tetapi hotel yang kebetulan berlokasi di penjara. Makanya Anda bisa melihat banyak anak pejabat atau anak cucu konglomerat hitam sayang-sayang saya bapaknya dan dianggap pahlawan. Ya jelas dong! Belum tentu kerja mati-matian 50 tahun kita bisa menghasilkan Rp 10 miliar, dan asal jangan masuk penjaranya saat usia 70 tahun. Jadi mending kita belajar korupsi kale!

Inilah alasan mengapa konglomerat hitam dan pejabat busuk tersenyum dan tidak pernah merasakan kelaparan seperti rakyat Indonsia meski mau krisis moneter 97 - 98 terulang ribuan kali lagi. Sebenarnya jika seorang hakim yang benar-benar tulus dan cerdas dan ingin memberikan keadilan kepada rakyat kecil bisa menarik logika berpikir sederhana: pelaku korupsi dan kejahatan perbankan di atas Rp 20 miliar harus dihukum minimal 30 tahun atau seumur hidup. Jika tidak sama saja bohong dan hanya omdong (omong doang) kayak kentut. Semua orang akan terpancing untuk melakukan hal seperti itu. Kami saja tertantang untuk korupsi toh keluar penjara bisa hidup enak dan tenang. Kalau malu sama tetangga, tinggal beli tiket tinggal di Singapore atau Australia.

Sampai di sini, Anda paham mengapa pada saat restrukturisasi perbankan besar-besaran baik yang dilakukan sebelum atau setelah krisis ekonomi 1998 situasinya begitu mencekam. Semua bank jika ditutup jelas berbahaya, tetapi tidak ditutup juga akan sama bahayanya. Lha, karena dana derivatifnya begitu luar biasa? Otak pejabat birokrat yang bergelar doktor profesor super jenius pun bisa gila kalau tidak kuat. Uang sudah tidak tahu lari ke mana, ke tangan siapa sementara situasi ekonomi porak poranda bercampur ketidakpastian situasi politik. Belum lagi tekanan dan ancaman negara asing. Malaysia dari ujung sana tertawa terkekeh-kekeh. Sekarang Anda baru mangut-mangut dan mulai mengerti apa yang terjadi dan betapa rumit sebuah sistem ekonomi perbankan itu harus dijaga. Bukan soal setor tunai, tarik ATM, tabungan masih ada duit atau tidak, gesek kartu kredit bayar ini bayar itu, belanja di sana belanja di sini, dsb.

Sebenarnya kalau kita mau jujur, krisis ekonomi 1997-1998 yang terjadi di kawasan ASEAN, krisis keuangan Amerika 2007-2008 yang mengharuskan pemerintah George W. Bush membailout USD 700 miliar, dan berbagai krisis keuangan yang pernah terjadi di seluruh dunia, merupakan krisis perbankan atau lembaga keuangan. Itu bukan krisis ekonomi tetapi krisis lembaga keuangan atau lembaga perbankan. Lebih tepatnya lagi krisis moralitas pejabat keuangan, bankir-bankir, broker pasar modal yang ada. Krisis ekonomi yang sejati adalah krisis yang terjadi akibat kekurangan sumber daya alam dan pemanfaatannya karena satu dua hal. Saat krisis ekonomi 1997-1998 Indonesia dan negara-negara ASEAN masih kaya raya dan tidak kelaparan. Bukti fakta nyatanya justru pada saat krisis produk-produk komoditas pertanian yang menjangkau pasar ekspor malah panen uang. Karena ada selisih pemberlakuan kurs mata uang. Yang babak belur justru para spekulan mata uang, bankir dan mereka-mereka yang hidupnya bergantung pada produk perbankan baik hutang piutang. Termasuk mereka yang suka menggunakan produk import di mana harganya selangit. Bukankah begitu?

Tetapi semuanya itu dipermainkan sedemikian rupa seolah-olah itu menjadi krisis ekonomi dan membuat semua pemerintah negara manapun harus ikut bertanggung jawab, turun tangan karena sudah masuk krisis ekonomi. Inilah celakanya dan di sinilah permainannya. Jika pemerintah tidak segera turun tangan maka ujung-ujungnya justru benar-benar akan terjadi krisis ekonomi yang sangat berbahaya sekali. Karena sejumlah tabungan masyarakat bisa habis dipakai oleh bajingan-bajingan perbankan seperti ini. Bisa terjadi chaos, rusuh di mana-mana bahkan seorang presiden dan jenderal bisa diculik dan digantung seperti pada zaman raja-raja di Perancis dulu. Mengerikan bukan? Inilah yang sebenarnya juga terjadi dengan kasus bank Century. Orang pintar pura-pura bodoh saja.

Semua uang itu bukan hilang lenyap kayak embun terkena panas matahari. Uang itu tetap ada tetapi berpindah tangan sedemikian rupa dan sedemikian cerdik. Yang jadi korban rakyat-rakyat kecil dan orang-orang yang tidak terkait permainan-permainan seperti ini, termasuk beberapa pejabat yang jujur dan tulus. Korban dari krisis keuangan di belahan dunia manapun tidak mengenal kaya miskin, pejabat atau rakyat, orang berpendidikan atau buta huruf. Semua disapu bersih bagaikan badai tsunami. Sedangkan mereka-mereka yang terlibat dalam upaya "penciptaan" badai krisis keuangan tersebut senyum-senyum saja. Mau masuk penjara 20 tahun pun rasanya orang-orang seperti Dicky Iskandar Dinata, Robert Tantular, Samadikun Hartono, Adrian Waworuntu, Hendra Rahardja, Eddy Tansil, dsb. yang tidak bisa disebutkan satu per satu oke-oke saja. Begitu keluar anak dan cucu cicit mereka sekeluarga tetap jadi orang kaya. Malah masuk penjara pun bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Satu berkorban tetapi seisi buyut nenek moyang terselamatkan bukankah ini adalah pengorbanan seorang pahlawan? Daripada kita, mulai dari kakek kerja mati-matian, ayah kerja banting tulang, kita hancur-hancuran e.. malah harta kekayaan yang kita sinpan di bank digondol bajingan-bajingan seperti itu dengan segala kepintaran dan permainan mereka.

Tak heran begitu kita melihat di tayangan televisi, semua anak cucu dan keluarga pelaku suap dan korupsi yang tertangkap tak pernah gentar melawan pemerintah dan terus membela orang tua mereka. Pahlawan ya jelas dibela dong. Bahkan ada yang berani berkata sambil disorot kamera - dirinya tidak sadar bahwa ditonton ratusan juta rakyat Indonesia -,

"Papa gak salah! Ini penjebakan! Ini kriminalisasi! Ini kepentingan politik!"

"Saya bangga sama Papa! Papa orang tua yang bertanggung jawab."

Preettt.... Dirinya tidak tahu bahwa satu orang yang dibanggakan justru menjadi penyakit atau virus penderitaan bagi jutaan anak-anak keluarga lainnya. Dan jika kondisi seperti ini terus terjadi, penegakan hukum tidak beres, hakim-hakim masih bermain-main, polisi masih mandul, percayalah lama-lama Indonesia akan hilang semua orang baiknya. Lho buat apa jadi orang baik jika selalu menjadi korban? Mungkin kami adalah orang pertama yang akan menjadi orang jahat. Buat apa jadi orang baik sementara orang jahat terus menertawakan orang baik dan Tuhan sudah tidur bahkan pingsan. Doa pun hanyalah lagu mars ceremonial sebab Tuhan tidak ada. Yang ada cuma omongan-omongan pendeta dan ustadz yang tidak pernah melihat kenyataan melainkan kerjanya hanya membaca kitab suci setiap hari. Atau jangan-jangan Tuhan memang ilusi atau dongeng kosong?

Konsekuensi Pemerintah Menyelamatkan Bank Bermasalah

Kasus Konyol Yang Dipikul Pemerintah
Karena sudah diarahkan untuk menyentuh perekonomian negara, pemerintah mau tidak mau harus turun tangan menolong. Jika tidak turun tangan bahkan bisa tambah kacau situasinya. Amerika saja membailout krisis keuangan mereka dengan dana talangan USD 700 miliar, apalagi Indonesia yang cuma Rp 6,7 triliun. Kecillll.... Memang terlihat kecil tetapi efeknya yang luar biasa baik secara politis dan kehidupan sosial di tahun-tahun berikutnya. Belum lagi masalah keadilan di mana "apa yang diperbuat oleh pelaku bisnis sebenarnya mereka sudah tahu resikonya" tidaklah pantas ditolong oleh pemerintah. Bailout kasus Bank Century tidak boleh dilakukan karena produk yang dimakan Om Robert Tantular dkk. itu adalah produk di luar produk perbankan. Seharusnya pemerintah membiarkan mereka gontok-gontokan sendiri dan tidak akan ada yang namanya "ancaman sistemik". Istilah "ancaman sistemik" itu hanya bisa menipu orang bodoh atau menipu si Kabayan dari kampung!

Dan orang-orang yang menjadi nasabah atau klien dari Antaboga Delta Sekuritas seharusnya juga sudah menyadari jika sebuah produk berani menawarkan bunga tinggi sudah pasti berisiko tinggi. Tetapi ini diembat juga seolah diri adalah pihak paling benar dan merupakan rakyat yang jadi korban. Aneh bukan? Semua itu adalah orang-orang pintar serakah tetapi pura-pura bodoh. Menurut kami ya biarin saja bangkrut! Jika ini terus terjadi pemerintah ibarat petugas pencuci piring dari sebuah pesta besar. Tuan rumah dan tamu yang makan tetapi pemerintah yang cuci piring. Lain lagi jika itu bank pemerintah atau produk perbankan dengan return yang normal maka wajib bagi pemerintah untuk turun tangan. Ini masalah swasta kok pemerintah ikut jadi korban? Tetapi itulah permainan orang-orang hebat yang melibatkan orang dalam pemerintahan. Didiamkan salah, ditolong juga tambah salah. 

Bisa Anda bayangkan kalau BLBI I, BLBI II, Bapindo atau Century jika ternyata kredit-kredit perbankan yang mereka salurkan (derivatif) itu hanya untuk kelompok-kelompok mereka sendiri tetapi atas nama orang lain? Luar biasa bukan? Anda pun bisa segera jadi orang kaya kalau punya bank atau koneksi ke bankir-bankir atau pejabat-pejabat tersebut. Andai mertua kami nanti adalah pemilik bank, bankir, pejabat terkait, oh alangkah enaknya. Tuhan benar-benar beserta kita. Betapa beruntungnya Robert Tantular dkk. memiliki pemerintah Indonesia yang begitu hospitality ini. Kasus BLBI I dan II ternyata tidak menjadi pelajaran buat pemerintah. Semua proyek yang dulu dibiayai oleh bank-bank BLBI menjadi terbengkalai ketika bank-bank tersebut ditutup atau dilikuidasi. Sejumlah proyek besar menyisakan tiang dan tanah kosong masih bisa dengan gampang ditemui di kota Jakarta sejak krisis 1997-1998. Padahal semuanya menggunakan uang rakyat. Belum menghasilkan tetapi sudah berhenti, betapa menyakitkan. Tak ada bedanya sudah menikah baru mau malam pertama mendadak serangan jantung.

Pemerintah akhirnya meminjam ke sana ke mari, ke lembaga-lembaga donor mulai dari negara-negara G7, ADB (Bank Pembangunan Asia), IMF (Dana Moneter Internasional), ISDB (Islamic Development Bank), dsb. Menjilat ke sana ke mari hanya supaya tetap diberikan hutang yang gunanya untuk menutup hutang pihak swasta. Luarrr biasaa...!! Akhirnya pemerintah pun mulai ditekan sana sini, diganggu sana sini, dimintai jatah sumber daya alam di sana dan di sini mulai dari Aceh hingga Irian Jaya. Itulah yang terjadi dan akan terus terjadi jika rakyat Indonesia tetap bodoh: salah memilih pemimpin mulai dari bupati, gubernur, anggota DPRD, DPR bahkan Presiden. Krisis ekonomi dan keuangan mau tidak mau memang merupakan tanggung jawab dan bukti peranan kita masing-masing. Kita bodoh karena tidak bisa memilih presiden atau wakil rakyat yang benar-benar bagus. Jadinya ya terus begini. Pemilihan gubernur, bupati, anggota DPRD, DPR bahkan presiden 2014 sudah di depan mata dan jangan lagi terus ulangi kesalahan yang sama dengan memilih orang-orang yang tidak mampu!

Siapapun dia, dari suku manapun, berbahasa apapun, latar belakang keluarga bagaimanapun, dari agama apapun, dari jenis kelamin apapun bahkan seorang waria sekalipun, selama dia mampu, mau dan bisa, itulah yang harus kita pilih! Jika tidak ya begini...begini saja! Gak kapok apa? Masih mau terus dikasih nasi bungkus?

Sponsored links Peranan Bank Dalam Kehidupan Manusia:
 

1 komentar:

Dimas Fiancheto mengatakan...

Jleb, hehe .. saya suatu saat bermimpi untuk bisa menjadi bankir yang mampu dan mau . mudah2an terwujud. aamiin.

Poskan Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab si komentator. Komentar di luar topik apalagi menawarkan bisnis dengan mencantumkan nomor ponsel/telepon pasti dihapus! Berhati-hatilah terhadap segala bentuk penipuan!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons | Konsumen Review